Putraga13a
Jumat, 13 Mei 2011
Sayang Kalau Dilewatkan
Kamis, 07 April 2011
Raul Gonzales Blanco

Minggu, 06 Maret 2011
Revolusi PSSI
Senin, 14 Februari 2011
Messi, Pantaslah
Pemilihan yang dilakukan oleh para pelatih timnas, kapten timnas, serta para jurnalis dan koresponden memunculkan nama Lionel Messi sebagai pemain terbaik dunia FIFA Ballon D’or 2010, penghargaan yang menggabungkan FIFA World Player dan Ballon D’or, menimbulkan banyak pandangan yang kurang positif dari penggemar sepak bola dunia. Seharusnya ada yang lebih pantas mendapatkannya. Begitulah ungkap media-media yang banyak saya baca setelah pentahbisan Lionel Andreas Messi sebagai pemenangnya. Walaupun tidak secara langsung mengatakan bahwa Messi kurang pantas tapi dari gaya bahasa yang disampaikan mempunyai arti demikian.
Menurut saya sah-sah saja seseorang berpendapat mengenai hasil pemain terbaik FIFA Ballon D’or 2010. Setelah Wesley Sneijder, orang yang diangap paling pantas mendapatkan FIFA Ballon D’or 2010, tak masuk dalam nominasi tiga besar, Iniesta dan Xavi menjadi unggulan. Bahkan nama terakhir tersebut menjadi favorit untuk memenangkannya. Lebih jauh lagi Xavi dan Iniesta, koleganya di Barcelona dan timnas Spanyol, akan mencatatkan sejarah sebagai orang Spayol pertama yang pernah mendapatkan gelar pemain terbaik dunia. Apa lajur, Messi lah yang akhirnya mendapatkannya.
Bagi saya Messi sah-sah saja mendapatkannya. Memang penampilan Messi melempem di Piala Dunia dan tak bisa membawa Barcelona melangkah jauh di Liga Champions dan Copa del Rey. Setidaknya Messi membawa Barcelona menjuarai La-Liga dan menggondol el-pichichi musim lalu. Dilain hal, penampilan Messi pun merupakan ruhnya permaina Barcelona tanpa mengenyampingkan peran Iniesta dan Xavi yang dianggap sebagai faktor penunjang apiknya penampilan Messi di level klub. Tapi kembali lagi ke individu masing-masing. Messi dengan kecerdasannya mampu mengkonversi dukungan Iniesta dan Xavi menjadi penampilan apik di level klub.
Di level timnas Iniesta dan Xavi memang berhasil membawa Spanyol menjadi yang terbaik di Afrika lalu. Secara garis besar, Spanyol juara bukanlah atas jasa Xavi sebagai sang playmaker atau pun gol semata wayang Iniesta di partai puncak, melainkan Spanyol memang benar-benar bekerja secara tim yang sempurna hingga memenangkan piala dunia . Messi, tidaklah seburuk yang dikatakan. Meskipun gagal mencetak satu gol pun ia masih menjadi nyawa permainan Albiceleste dengan assist dan pergerakan efektifnya. Lagi pula usia yang masih muda ditambah dengan beban yang sangat berat sangat mempengaruhi mentalnya yang masih belum matang bila tampil di kompetisi pertandingan level tertinggi Piala Dunia.
Disisi lain, Messi menjadi pemain terbaik karena banyak dipilih oleh pelatih dan kapten timnas dimana mereka lah orang-orang yang terlibat secara langsung di dalam lapangan. Mereka benar-benar merasakan dan memahami kondisi yang ada dalam lapangan pertandingan sehingga memilih Messi sebagai yang terbaik. Disisi lain Xavi dan Iniesta dijagokan oleh para jurnalis dan responden yang hanya mengamati dari luar lapangan.
Terlepas dari itu semua gelar dari luar lapangan hanyalah sebagai pelengkap prestasi individu seorang pemain. Hal terpenting bagaimana meraih gelar dan merayakannya di atas lapangan bersama para tifosi di dalam stadion. Pengemar sepak bola tidak akan selalu mengingat berapa banyak gelar luar di luar lapangan yang didapatkan seorang pemain melainkan mereka akan mengingat seberapa hebat seorang pemain bermain dilapangan dan meraih kemenangan dalam lapangan. Mereka akan menilai dan mengingat siapa yang terbaik serta bermain baik dan menghibur saat mereka sedang menonton bola. Pendeknya, penikmat sepakbola hanya akan menikmati permainan pesepakbola terbaik di dalam lapangan pertandingan. Jadi pemain terbaik bukanlah dipilih dari penilaian sekelompok orang melainkan pemain yang dipilih oleh penikmat sepakbola itu sendiri berdasarkan anggapan dan penilaian mereka sendiri. Messi, pantaslah. Anda?
Tulisan Pertamaku

Sepak bola, olahraga terfavorit di jagad semesta ini. Beruntung bagiku, aku merupakan salah satu penikmatnya. Aku merasa senang dan bangga walaupun aku bukanlah seorang pemain atau pun pelatih hebat, presiden klub, maupun supporter fanatik (garis keras) dari suatu klub sepakbola. Aku hanyalah seorang penikmat sepakbola dari luar lapangan. Sebenarnya aku juga mempunyai keinginan untuk menjadi seorang pemain sepak bola proesional tapi usia yang ke-20 ini sudah telat. Paling-paling kalau nantinya ada kesempatan dan garis nasib mungkin aku akan jadi pelatih professional atau pun pemilik dari sebuah klub sepakbola (amin).
Sepakbola, ada sesuatu hal yang sangat unik dan berbeda dari olaharaga lainnya. Misalnya, permainan menawan dalam sepakbola bukan merupakan harga mati untuk mencapai kemenangan. Begini, misalnya ada sebuah tim yang selama 89 menit pertandingan dia bermain sangat bagus tapi hanya dalam satu menit mereka teledor akibatnya fatal, kekalahan yang di dapat. Tragis kan? Tapi itulah asyiknya. Tim sekelas Yunani di Piala Eropa 2004 pun bisa jadi juara.
Di lain hal sepakbola menurutku sumber segala inspirasiku. Saat SMA dulu guru Bahasa Indonesia menyuruh membuat puisi, lalu aku buat puisi tentang Klub kesayanganku. Buat cerpen, ada hubungannya dengan sepak bola. Bahkan pada saat praktek tentang partipasi politik (kampanye) pelajaran Kewarganegaraan, hemm…, saya mencalonkan diri sebagai presiden ( weleh…weleh…), bukan presiden suatu negara melainkan presiden klub kesayanganku. Ya, masih banyak lagi yang lainnya.
Ya, itulah sepakbola dalam hidupku. Maka dari itu aku mulai belajar menuangkan pikiranku ke dalam tulisan-tulisan di blog ini. Bukannya aku sok tahu dengan sepak bola ataupun aku lebih memperhatikan sepakbola. Aku hanya ingin berbagi dengan seluruh football lovers yang ada tentang sepak bola, sumber inspirasiku. Sepak bola yang selalu membantu aku keluar dari keadaan-keadaan yang terbatas. I Love Football.