Jumat, 13 Mei 2011

Sayang Kalau Dilewatkan

Tak terasa dari sekian lama waktu berjalan liga-liga top Eropa hampir mencapai akhir perjalanannya. Rasanya baru kemarin pekan kick-off liga-liga tersebut ditiup. Rasa-rasanya juga baru beberapa hari yang lalu juga proses transfer saga di daratan benua biru, Eropa. Terlalu cepatnya waktu berlalu. Di Jerman, Borusia Dortmound berhasil meraih titel Bundesliga sejak sembilan tahun lalu. Selain itu, DFB Pokal akan diperebutkan antara Shalke 04 vs MSV Duisburg
Di Spanyol, prajurit Catalan, Barcelona, meneruskan dominasi mereka atas seteru abadi mereka, Real Madrid, selama tiga musim berturut-turut. Meskipun El-Barca sempat bertekuk lutut dari El-Real pada partai puncak Copa del Rey. Di Italia, AC Milan mengakhiri puasa gelar Seria A sejak 2004 usai menahan imbang tim kuat ibu kota, AS Roma. Di sisi lain Inter yang menjadi pesaing AC Milan dalam merebut titel liga berpeluang memenangi satu trofi apabila mereka bisa menghempaskan Palermo di laga puncak Copa Italia.
Di tanah Ratu Elizabeth agak berbeda. Memang belum ada tim yang secara matematis menjuarai EPL. Namun secara logis Manchester United paling layah dikedepankan mengingat mereka ‘hanya’ membutuhkan 1 angka untuk memastika gelar ke 19 mereka di ajang EPL. Di lain kompetisi, rival sekota Manchester United, Manchester City, berpeluang menghapus dahaga gelar mereka selama lebih dari 35 tahun apabila mereka berhasil mengubur Stoke City di partai puncak FA Cup. Sebelumnya Birmingham berhasil meraih trofi Carling Cup usai ‘membunuh’ Arsenal di laga puncak.
Lalu muncul dibenak kita sebuah hal yang mengatakan jika telah keluar sebuah pemenang maka usailah sudah sebuah kompetisi meskipun masih menyisakan beberapa partai sisa. Kita menganggap bahwa pertandingan sudah tidak menarik lagi karena kurang greget maupun atmosfir dan tensi pertandingan menurun. Benarkah..??? Ada benarnya jika ada yang berpikir seperti itu. Tidak salah, tapi kurang tepat.
Dalam sebuah kompetisi liga sangat berbeda dengan kompetisi sebuah piala. Di liga mempunyai jadwal pertandingan yang lebih banyak yang harus diselesaikan meskipun sang juara telah mentahbiskan diri mereka sebelum laga pamungkas. Nah, disinilah masih ada sisi-sisi menarik yang sayang untuk dilewatkan. Diantaranya persaingan untuk memperebutkan jatah tampil dikompetisi Eropa maupun bertjuang agar tidak terdegradasi ke divisi bawah.
Ya, inilah yang menarik kawan. Saya yakin tensi dan atmosfir pertandingan tidak kalah menarik dan menegangkan apabila kawan-kawan menyaksikan pertandingan tim-tim yang bersaing memperebutkan jatah tampil di Eropa maupun menghindar dari jeratan degradasi.
Inilah hal-hal yang menarik yang masih tersisa pada partai-partai tersisa. Bukan hanya untuk menghabiskan pertandingan sisa tapi juga untuk mejaga gengsi, menambah fulus, bahkan menaikan harga diri .Mau tahu apa saja yang masih menarik untuk ditonton,,?? Sedikit aja ya.
Di Bundesliga, Wolfsburg yang merupakan sang juara dua musim silam harus menang agar tidak terdegradasi ke Bundesliga 2. Meskipun menang mereka mesti berharap agar tim Borussia Munchengladbah kalah atau pun seri agar mereka bisa mengambil posisi Borussia Munchengladbah. Di liga Inggris lima tim papan bawah masih bersaing untuk selamat dari zona degradasi. Di Spanyol, Espanyol masih mengintip posisi Sevilla agar bisa tampil di UEFA League musim depan. Sementara di papan bawah lebih gawat lagi. Tim peringkat sebelas pun, Osasuna, masih berpeluang terjerembab ke Segunda Divisi jika mereka gagal meraih sebiji poin. Sementara itu di Seria A tiga tim masih berpeluang meraih jatah satu tiket berlaga di Liga Champhions musim depan, As Roma, Lazio, dan Udinese.Di papan bawah, peringkat 14-19 masih berjuang untuk selamat dari jurang degradasi.

Kamis, 07 April 2011

Raul Gonzales Blanco


Nama : Raul Gonzalez Blanco
Julukan : “el angel de Madrid” (Malaikat Madrid), “Raul Madrid”, “el Ferrari”.
TTL : San Memez, Madrid, Spanyol. 27 Juni 1977.
Posisi : Penyerang
Tinggi : 180 cm
Karier Klub : - Real Madrid (1994-2010)
- Scahlke (2010-….)
Prestasi : - La Liga Spanyol : 1995, 1997, 2001, 2003, 2007, 2008.
- Piala Super Spanyo : 1997, 2001, 2003.
- Piala Champions UEFA : 1998, 2000, 2002.
- Piala Super Eropa : 2002.
- Piala Interkontinental : 1998, 2000.
Raul Gonzales, striker klub Bundesliga Schalke ini merupakan pemain yang luar biasa. Mantan kapten Real Madrid dan Timnas Spanyol ini tidak pernah menerima kartu merah sepanjang perjalanan karirnya hingga saat ini. Saat belia pemain yang sempat disia-siakan oleh Atletico Madrid, rival sekota Real Madrid, menjadi sosok yang striker yang disegani di dunia. Bukan hanya kepiawaiannya mencetak gol melainkan juga kepribadiannya yang terpuji baik di dalam maupun di luar lapangan.
Raul merupakan sosok yang terpuji baik di dalam maupun di luar lapangan. Pembawaannya yang dingin ditambah dengan jiwa kepemimpinannya membuat dia selalu dihormati. Walaupun di tahun 2005 ke atas ketajamannya jauh menurun dia masih tetap saja di hormati dan disegani para defender dan penjaga gawang lawan. Pemain-pemain top datang dan pergi dari Santiago Barnebeu dia tetap saja menjadi jiwa Real Madrid walaupun hanya duduk dari bangku cadangan.
Hingga akhirnya pada tahun 2010 saat kedatangan Jose Mourinho ke Real Madrid yang membuat Raul harus benar-benar mengangkat kaki dari Barnebeu. Walaupun begitu kepergian Raul dari Madrid bukan merupakan kesetiaanya memudar melainkan kabaikan untuk Madrid itu sendiri. Raul sadar bahwa sudah saatnya dia memberikan kesempatan kepada pemain muda Madrid generasi berikutnya. Sempat tepikirkan oleh Raul untuk pension dari dunia sepak bola tapi di saat yang bersamaan juga Shalke yang dilatih oleh Felix Magath sangat menginginkan servis Raul untuk mengisi lini depan Schalke. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan dan masukan dia memilih untuk bergabung dengan Schalke. Walaupun demikian dia tetap mengatakan el-Real adalah jiwa yang sesungguhnya.
Semenjak kepergian Raul ke Schalke ketajamannya pun tidak hilang. Walaupun Schalke sempat terseok-seok di awal-awal kompetisi Raul sempat mencetak hattrick pada salah satu laga Bundesliga musim 2010/11. Luar biasa daya magis sang Pangeran Barnebeu ini. Dicap sudah habis, dia masih bisa menunjukan insting sebagai seorang striker kelas wahid. Semoga saja Raul masih bisa memberikan tontonan permaninanya meskipun di usia yang sesenja ini. Saya yakin bahwa penyerang yang satu ini adalah contoh teladan bagi para generasi muda sepak bola. Raul adalah olahragawan sejati, seniman sepakbola yang menampilkan perilaku terpuji di dalam dan di luar lapangan.

Minggu, 06 Maret 2011

Revolusi PSSI

Sebagai seorang penikmat bola yang awam di repulik ini ada sebuah perasaan bosan, geram, dan terkejut melihat kekisruhan yang ada pada badan otoritas sepakbola tertinggi di Indonesia, PSSI. Desas-desus yang mengarah pada perubahan bahkan kearah yang lebih jauh lagi, revolusi. Wah, seberapa parahkah kondisi sepakola kita hingga kita menginginkan seuatu yang bernama Revolusi PSSI?
Jawabannya bisa iya bisa juga tidak. Revolusi mengandung pengetian perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung secara cepat dan menyangkut dasar atau pokok-pokok kehidupan masyarakat ( sumber : Wikipedia). Ya, perubahan sosial dan budaya.
Perubahan sosial. Sosial identik dengan masyarakat yang terdiri dari orang-orang. Di dalam tulisan ini saya mengartikan sosial sebagai orang-orang yang mengurus PSSI. Sejak 2003 bapak kita cs. yang terhormat telah mengurus sepakbola di negeri ini. Bisa Anda nilai sendirilah kinerja mereka. Bagai seorang yang sangat pantas memimpin PSSI pak ketua pun bisa mengandalikan PSSI di balik jeriji besi kawan. Hebat ya. Selama dua periode bapak kita ini memipin. Bahkan dia hendak melanjutkan lagi keperiode yang selanjutnya. Hemm…
Saya berkata dari nurani saya yang paling dalam, tanpa pengaruh atau pun intervensi dari pihak lain. Saya ingin mengatakan “Pak, cukuplah memimpin. Berikan kepemimpinan kepada yang lain agar sepakbola kita lebih baik”.
Ya, sudah cukup lama memipin tanpa satu pun prestasi membuat rakyat benar-benar gerah. Sepakola merupakan olahraga nomor wahid di negeri ini. Sepakola merupakan tempat pelarian masyarakat untuk mencari hiburan di tengah-tengah hiruk pikuk kehidupan mereka sehari-hari dan juga situasi negara ini yang penuh kebohongan. Wajarlah jika ada kata revolusi di tubuh PSSI, revolusi sosial. Orang-orang yang mengurus PSSI ini seharusnya sadarlah, tak elok untuk terus bertahan jika tidak ada kemajuan. Bisa dikatakan kemunduran.
Saya tidak hanya melihat dari segi prestasi kawan, bahkan saja jika pada tahun 2010 lalu timnas kita berhasil menjuarai AFF Cup saya rasa desakan agar tetap turun pun masih ada. Ya, masih ada kawan. Carut marut sepakbola negeri ini bermuara pada satu nama pemimipin yang tidak becus mengolahnya, tidak lain dan tidak bukan adalah pak ketua PSSI. Mau tahu hal-hal yang menginnginkan revolusi di tubuh PSSI selaian dari prestasi? Lanjut bacanya ya.
Perubahan budaya. Budaya kerja yang dilakukan PSSI mirip dengan zaman orde baru. Pemimpin tunggal yang terus menerus, kongkalikong, hingga KKN mewarnai perjalanan masa kepemimipinan bapak kita ini. Bahkan aroma politik pun dibawa masuk ke dalam sepakola dan timnas kita. Budaya kerja seperti zaman orde baru yang dianut oleh PSSI jelas mengarah pada kemunduran. Memang, pada saat orde baru sepakola cukup disegani di kawasan Asia. Tapi kondisi saat itu berbeda dengan sekarang. Sudah bukan zamannya lagi.
PSSI jelas harus merubah budaya kerja mereka. Budaya yang membangun persepakbolaan kita kearah yang lebih baik. Budaya yang mencerminkan nasionalitas dan profesionalitas terhadap PSSI. Budaya yang memperkaya prestasi bukan kantong pribadi. Memang bapak kita dicalonkan menjadi salah satu pengurus di AFC, otoritas sepakbola tertinggi Asia, tapi apakah budaya seperti ini yang akan dibawa pada saat apak mengemban tugas itu kelak. Wah, bisa malu negeri ini.
Satu lagi yang perlu diperhatikan bagi pengurus PSSI sata ini yaitu budaya tahu diri. Tak ada perbaikan di persepakbolaan nasional seharusnya memunculkan rasa tahu diri bahwa mereka kurang pantas atau bahkan malah tidak pantas.
Memang revolusi tidak serta merta melahirkan perubahan secara instan. Butuh proses yang tidak singkat. Begitu juga pada PSSI dan sepakbola kita. Tapi setidaknya muncul harapan baru kearah yang lebih baik di masa yang akan datang. Intinya revolusi di PSSI harus ada. Revolusi yang mencakup perubahan sosial dan budaya. Perubahan kedua-duanya harus berjalan. Jika hanya salah satu bukan tidak mungkin kemunduran lagi yang akan kita dapatkan.
Saya berharap para bapak cs. diberikan kesadaran bahwa mereka harus memberikan kepada orang lain tentang tanggung jawab yang merekan emban saat ini. Sikap legowo dan sadar diri bahwa banyak yang tak menginginkan mereka lagi. Maju terus sepakbola Indonesia, jayalah Garuda.

Senin, 14 Februari 2011

Messi, Pantaslah

Pemilihan yang dilakukan oleh para pelatih timnas, kapten timnas, serta para jurnalis dan koresponden memunculkan nama Lionel Messi sebagai pemain terbaik dunia FIFA Ballon D’or 2010, penghargaan yang menggabungkan FIFA World Player dan Ballon D’or, menimbulkan banyak pandangan yang kurang positif dari penggemar sepak bola dunia. Seharusnya ada yang lebih pantas mendapatkannya. Begitulah ungkap media-media yang banyak saya baca setelah pentahbisan Lionel Andreas Messi sebagai pemenangnya. Walaupun tidak secara langsung mengatakan bahwa Messi kurang pantas tapi dari gaya bahasa yang disampaikan mempunyai arti demikian.

Menurut saya sah-sah saja seseorang berpendapat mengenai hasil pemain terbaik FIFA Ballon D’or 2010. Setelah Wesley Sneijder, orang yang diangap paling pantas mendapatkan FIFA Ballon D’or 2010, tak masuk dalam nominasi tiga besar, Iniesta dan Xavi menjadi unggulan. Bahkan nama terakhir tersebut menjadi favorit untuk memenangkannya. Lebih jauh lagi Xavi dan Iniesta, koleganya di Barcelona dan timnas Spanyol, akan mencatatkan sejarah sebagai orang Spayol pertama yang pernah mendapatkan gelar pemain terbaik dunia. Apa lajur, Messi lah yang akhirnya mendapatkannya.

Bagi saya Messi sah-sah saja mendapatkannya. Memang penampilan Messi melempem di Piala Dunia dan tak bisa membawa Barcelona melangkah jauh di Liga Champions dan Copa del Rey. Setidaknya Messi membawa Barcelona menjuarai La-Liga dan menggondol el-pichichi musim lalu. Dilain hal, penampilan Messi pun merupakan ruhnya permaina Barcelona tanpa mengenyampingkan peran Iniesta dan Xavi yang dianggap sebagai faktor penunjang apiknya penampilan Messi di level klub. Tapi kembali lagi ke individu masing-masing. Messi dengan kecerdasannya mampu mengkonversi dukungan Iniesta dan Xavi menjadi penampilan apik di level klub.

Di level timnas Iniesta dan Xavi memang berhasil membawa Spanyol menjadi yang terbaik di Afrika lalu. Secara garis besar, Spanyol juara bukanlah atas jasa Xavi sebagai sang playmaker atau pun gol semata wayang Iniesta di partai puncak, melainkan Spanyol memang benar-benar bekerja secara tim yang sempurna hingga memenangkan piala dunia . Messi, tidaklah seburuk yang dikatakan. Meskipun gagal mencetak satu gol pun ia masih menjadi nyawa permainan Albiceleste dengan assist dan pergerakan efektifnya. Lagi pula usia yang masih muda ditambah dengan beban yang sangat berat sangat mempengaruhi mentalnya yang masih belum matang bila tampil di kompetisi pertandingan level tertinggi Piala Dunia.

Disisi lain, Messi menjadi pemain terbaik karena banyak dipilih oleh pelatih dan kapten timnas dimana mereka lah orang-orang yang terlibat secara langsung di dalam lapangan. Mereka benar-benar merasakan dan memahami kondisi yang ada dalam lapangan pertandingan sehingga memilih Messi sebagai yang terbaik. Disisi lain Xavi dan Iniesta dijagokan oleh para jurnalis dan responden yang hanya mengamati dari luar lapangan.

Terlepas dari itu semua gelar dari luar lapangan hanyalah sebagai pelengkap prestasi individu seorang pemain. Hal terpenting bagaimana meraih gelar dan merayakannya di atas lapangan bersama para tifosi di dalam stadion. Pengemar sepak bola tidak akan selalu mengingat berapa banyak gelar luar di luar lapangan yang didapatkan seorang pemain melainkan mereka akan mengingat seberapa hebat seorang pemain bermain dilapangan dan meraih kemenangan dalam lapangan. Mereka akan menilai dan mengingat siapa yang terbaik serta bermain baik dan menghibur saat mereka sedang menonton bola. Pendeknya, penikmat sepakbola hanya akan menikmati permainan pesepakbola terbaik di dalam lapangan pertandingan. Jadi pemain terbaik bukanlah dipilih dari penilaian sekelompok orang melainkan pemain yang dipilih oleh penikmat sepakbola itu sendiri berdasarkan anggapan dan penilaian mereka sendiri. Messi, pantaslah. Anda?

Tulisan Pertamaku


Sepak bola, olahraga terfavorit di jagad semesta ini. Beruntung bagiku, aku merupakan salah satu penikmatnya. Aku merasa senang dan bangga walaupun aku bukanlah seorang pemain atau pun pelatih hebat, presiden klub, maupun supporter fanatik (garis keras) dari suatu klub sepakbola. Aku hanyalah seorang penikmat sepakbola dari luar lapangan. Sebenarnya aku juga mempunyai keinginan untuk menjadi seorang pemain sepak bola proesional tapi usia yang ke-20 ini sudah telat. Paling-paling kalau nantinya ada kesempatan dan garis nasib mungkin aku akan jadi pelatih professional atau pun pemilik dari sebuah klub sepakbola (amin).

Sepakbola, ada sesuatu hal yang sangat unik dan berbeda dari olaharaga lainnya. Misalnya, permainan menawan dalam sepakbola bukan merupakan harga mati untuk mencapai kemenangan. Begini, misalnya ada sebuah tim yang selama 89 menit pertandingan dia bermain sangat bagus tapi hanya dalam satu menit mereka teledor akibatnya fatal, kekalahan yang di dapat. Tragis kan? Tapi itulah asyiknya. Tim sekelas Yunani di Piala Eropa 2004 pun bisa jadi juara.

Di lain hal sepakbola menurutku sumber segala inspirasiku. Saat SMA dulu guru Bahasa Indonesia menyuruh membuat puisi, lalu aku buat puisi tentang Klub kesayanganku. Buat cerpen, ada hubungannya dengan sepak bola. Bahkan pada saat praktek tentang partipasi politik (kampanye) pelajaran Kewarganegaraan, hemm…, saya mencalonkan diri sebagai presiden ( weleh…weleh…), bukan presiden suatu negara melainkan presiden klub kesayanganku. Ya, masih banyak lagi yang lainnya.

Ya, itulah sepakbola dalam hidupku. Maka dari itu aku mulai belajar menuangkan pikiranku ke dalam tulisan-tulisan di blog ini. Bukannya aku sok tahu dengan sepak bola ataupun aku lebih memperhatikan sepakbola. Aku hanya ingin berbagi dengan seluruh football lovers yang ada tentang sepak bola, sumber inspirasiku. Sepak bola yang selalu membantu aku keluar dari keadaan-keadaan yang terbatas. I Love Football.