Minggu, 06 Maret 2011

Revolusi PSSI

Sebagai seorang penikmat bola yang awam di repulik ini ada sebuah perasaan bosan, geram, dan terkejut melihat kekisruhan yang ada pada badan otoritas sepakbola tertinggi di Indonesia, PSSI. Desas-desus yang mengarah pada perubahan bahkan kearah yang lebih jauh lagi, revolusi. Wah, seberapa parahkah kondisi sepakola kita hingga kita menginginkan seuatu yang bernama Revolusi PSSI?
Jawabannya bisa iya bisa juga tidak. Revolusi mengandung pengetian perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung secara cepat dan menyangkut dasar atau pokok-pokok kehidupan masyarakat ( sumber : Wikipedia). Ya, perubahan sosial dan budaya.
Perubahan sosial. Sosial identik dengan masyarakat yang terdiri dari orang-orang. Di dalam tulisan ini saya mengartikan sosial sebagai orang-orang yang mengurus PSSI. Sejak 2003 bapak kita cs. yang terhormat telah mengurus sepakbola di negeri ini. Bisa Anda nilai sendirilah kinerja mereka. Bagai seorang yang sangat pantas memimpin PSSI pak ketua pun bisa mengandalikan PSSI di balik jeriji besi kawan. Hebat ya. Selama dua periode bapak kita ini memipin. Bahkan dia hendak melanjutkan lagi keperiode yang selanjutnya. Hemm…
Saya berkata dari nurani saya yang paling dalam, tanpa pengaruh atau pun intervensi dari pihak lain. Saya ingin mengatakan “Pak, cukuplah memimpin. Berikan kepemimpinan kepada yang lain agar sepakbola kita lebih baik”.
Ya, sudah cukup lama memipin tanpa satu pun prestasi membuat rakyat benar-benar gerah. Sepakola merupakan olahraga nomor wahid di negeri ini. Sepakola merupakan tempat pelarian masyarakat untuk mencari hiburan di tengah-tengah hiruk pikuk kehidupan mereka sehari-hari dan juga situasi negara ini yang penuh kebohongan. Wajarlah jika ada kata revolusi di tubuh PSSI, revolusi sosial. Orang-orang yang mengurus PSSI ini seharusnya sadarlah, tak elok untuk terus bertahan jika tidak ada kemajuan. Bisa dikatakan kemunduran.
Saya tidak hanya melihat dari segi prestasi kawan, bahkan saja jika pada tahun 2010 lalu timnas kita berhasil menjuarai AFF Cup saya rasa desakan agar tetap turun pun masih ada. Ya, masih ada kawan. Carut marut sepakbola negeri ini bermuara pada satu nama pemimipin yang tidak becus mengolahnya, tidak lain dan tidak bukan adalah pak ketua PSSI. Mau tahu hal-hal yang menginnginkan revolusi di tubuh PSSI selaian dari prestasi? Lanjut bacanya ya.
Perubahan budaya. Budaya kerja yang dilakukan PSSI mirip dengan zaman orde baru. Pemimpin tunggal yang terus menerus, kongkalikong, hingga KKN mewarnai perjalanan masa kepemimipinan bapak kita ini. Bahkan aroma politik pun dibawa masuk ke dalam sepakola dan timnas kita. Budaya kerja seperti zaman orde baru yang dianut oleh PSSI jelas mengarah pada kemunduran. Memang, pada saat orde baru sepakola cukup disegani di kawasan Asia. Tapi kondisi saat itu berbeda dengan sekarang. Sudah bukan zamannya lagi.
PSSI jelas harus merubah budaya kerja mereka. Budaya yang membangun persepakbolaan kita kearah yang lebih baik. Budaya yang mencerminkan nasionalitas dan profesionalitas terhadap PSSI. Budaya yang memperkaya prestasi bukan kantong pribadi. Memang bapak kita dicalonkan menjadi salah satu pengurus di AFC, otoritas sepakbola tertinggi Asia, tapi apakah budaya seperti ini yang akan dibawa pada saat apak mengemban tugas itu kelak. Wah, bisa malu negeri ini.
Satu lagi yang perlu diperhatikan bagi pengurus PSSI sata ini yaitu budaya tahu diri. Tak ada perbaikan di persepakbolaan nasional seharusnya memunculkan rasa tahu diri bahwa mereka kurang pantas atau bahkan malah tidak pantas.
Memang revolusi tidak serta merta melahirkan perubahan secara instan. Butuh proses yang tidak singkat. Begitu juga pada PSSI dan sepakbola kita. Tapi setidaknya muncul harapan baru kearah yang lebih baik di masa yang akan datang. Intinya revolusi di PSSI harus ada. Revolusi yang mencakup perubahan sosial dan budaya. Perubahan kedua-duanya harus berjalan. Jika hanya salah satu bukan tidak mungkin kemunduran lagi yang akan kita dapatkan.
Saya berharap para bapak cs. diberikan kesadaran bahwa mereka harus memberikan kepada orang lain tentang tanggung jawab yang merekan emban saat ini. Sikap legowo dan sadar diri bahwa banyak yang tak menginginkan mereka lagi. Maju terus sepakbola Indonesia, jayalah Garuda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar