Senin, 14 Februari 2011

Messi, Pantaslah

Pemilihan yang dilakukan oleh para pelatih timnas, kapten timnas, serta para jurnalis dan koresponden memunculkan nama Lionel Messi sebagai pemain terbaik dunia FIFA Ballon D’or 2010, penghargaan yang menggabungkan FIFA World Player dan Ballon D’or, menimbulkan banyak pandangan yang kurang positif dari penggemar sepak bola dunia. Seharusnya ada yang lebih pantas mendapatkannya. Begitulah ungkap media-media yang banyak saya baca setelah pentahbisan Lionel Andreas Messi sebagai pemenangnya. Walaupun tidak secara langsung mengatakan bahwa Messi kurang pantas tapi dari gaya bahasa yang disampaikan mempunyai arti demikian.

Menurut saya sah-sah saja seseorang berpendapat mengenai hasil pemain terbaik FIFA Ballon D’or 2010. Setelah Wesley Sneijder, orang yang diangap paling pantas mendapatkan FIFA Ballon D’or 2010, tak masuk dalam nominasi tiga besar, Iniesta dan Xavi menjadi unggulan. Bahkan nama terakhir tersebut menjadi favorit untuk memenangkannya. Lebih jauh lagi Xavi dan Iniesta, koleganya di Barcelona dan timnas Spanyol, akan mencatatkan sejarah sebagai orang Spayol pertama yang pernah mendapatkan gelar pemain terbaik dunia. Apa lajur, Messi lah yang akhirnya mendapatkannya.

Bagi saya Messi sah-sah saja mendapatkannya. Memang penampilan Messi melempem di Piala Dunia dan tak bisa membawa Barcelona melangkah jauh di Liga Champions dan Copa del Rey. Setidaknya Messi membawa Barcelona menjuarai La-Liga dan menggondol el-pichichi musim lalu. Dilain hal, penampilan Messi pun merupakan ruhnya permaina Barcelona tanpa mengenyampingkan peran Iniesta dan Xavi yang dianggap sebagai faktor penunjang apiknya penampilan Messi di level klub. Tapi kembali lagi ke individu masing-masing. Messi dengan kecerdasannya mampu mengkonversi dukungan Iniesta dan Xavi menjadi penampilan apik di level klub.

Di level timnas Iniesta dan Xavi memang berhasil membawa Spanyol menjadi yang terbaik di Afrika lalu. Secara garis besar, Spanyol juara bukanlah atas jasa Xavi sebagai sang playmaker atau pun gol semata wayang Iniesta di partai puncak, melainkan Spanyol memang benar-benar bekerja secara tim yang sempurna hingga memenangkan piala dunia . Messi, tidaklah seburuk yang dikatakan. Meskipun gagal mencetak satu gol pun ia masih menjadi nyawa permainan Albiceleste dengan assist dan pergerakan efektifnya. Lagi pula usia yang masih muda ditambah dengan beban yang sangat berat sangat mempengaruhi mentalnya yang masih belum matang bila tampil di kompetisi pertandingan level tertinggi Piala Dunia.

Disisi lain, Messi menjadi pemain terbaik karena banyak dipilih oleh pelatih dan kapten timnas dimana mereka lah orang-orang yang terlibat secara langsung di dalam lapangan. Mereka benar-benar merasakan dan memahami kondisi yang ada dalam lapangan pertandingan sehingga memilih Messi sebagai yang terbaik. Disisi lain Xavi dan Iniesta dijagokan oleh para jurnalis dan responden yang hanya mengamati dari luar lapangan.

Terlepas dari itu semua gelar dari luar lapangan hanyalah sebagai pelengkap prestasi individu seorang pemain. Hal terpenting bagaimana meraih gelar dan merayakannya di atas lapangan bersama para tifosi di dalam stadion. Pengemar sepak bola tidak akan selalu mengingat berapa banyak gelar luar di luar lapangan yang didapatkan seorang pemain melainkan mereka akan mengingat seberapa hebat seorang pemain bermain dilapangan dan meraih kemenangan dalam lapangan. Mereka akan menilai dan mengingat siapa yang terbaik serta bermain baik dan menghibur saat mereka sedang menonton bola. Pendeknya, penikmat sepakbola hanya akan menikmati permainan pesepakbola terbaik di dalam lapangan pertandingan. Jadi pemain terbaik bukanlah dipilih dari penilaian sekelompok orang melainkan pemain yang dipilih oleh penikmat sepakbola itu sendiri berdasarkan anggapan dan penilaian mereka sendiri. Messi, pantaslah. Anda?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar